Sudah 32 Tahun Yayasan Dharmais Membantu Panti Asuhan
MUNGKIN, Yayasan Dharmais merupakan satu-satunya lembaga sosial di Indonesia yang bertahan selama 32 tahun dan konsisten memberi bantuan kepada ribuan panti asuhan dan panti wreda, pasien katarak, dan pasien thalasemia. Karena memang Yayasan Dharmais memiliki komitmen yang tak pernah surut dalam melaksanakan misi sosial.
Bukan itu saja, di bidang pendidikan Yayasan Dharmais ikut membiayai operasional Perpustakaan Keliling dan ikut serta mengatasi masalah anak jalanan dan remaja putus sekolah melalui program Pesantren Singkat Pelatihan Usaha Produktif (PSPUP). Selain itu juga masih banyak kegiatan sosial lainnya.
Namun, semua kegiatan dan pembiayaan yang diberikan oleh Yayasan Dharmais, Menurut Kepala Pelaksana Kegiatan Yayasan Dharmais, Suhariyanto, telah terprogram dan dikelola secara profesional.
Yayasan yang didirikan Pak Harto (presiden kedua RI) ini telah memberikan bantuan tetap kepada 50.000 anak yatim piatu, penyandang cacat, anak terlantar, orangtua jompo yang berada di 1.550 panti asuhan di seluruh Tanah-Air.
Tahun 2007, Yayasan Dharmais mengalokasikan dana senilai Rp28,5 miliar untuk disalurkan ke panti-panti asuhan. Masing-masing anak mendapatkan Rp50.000 per bulan untuk membantu biaya makan dan kesehatan, kata Suhariyanto didampingi Bendahara Yayasan Dharmais, Zarlons Zaghlul.
Untuk mendapatkan bantuan dari Yayasan Dharmais, para pemohon harus memenuhi persyaratan antara lain ada pondokan atau tempat tinggal anak yatim atau orangtua jompo, memiliki izin dan rekomendasi dari Pemda setempat.
Setelah memenuhi persyaratan administratif maka pihak yayasan menyeleksi dan meninjau untuk mengetahui kelayakannya. Jika sudah terpenuhi semua persyaratan, dana akan terus mengucur setiap tiga bulan. Tetapi kami juga terus mengevaluasi secara berkala, kata Suhariyanto.
Sebab apabila panti sudah mapan atau tidak lagi layak untuk dibantu, maka dananya bisa dialihkan untuk panti yang masih dalam daftar tunggu. Masih banyak panti asuhan yang mengajukan kepada kami, tetapi karena keterbatasan dana, maka panti tersebut harus sabar menunggu, ujarnya.
Ide Pak Harto dinilai mulia dan cemerlang. Untuk membantu anak yatim dan orangtua jompo, Pak Harto tidak mendirikan panti asuhan tetapi mendirikan Yayasan Dharmais yang dapat menyalurkan bantuan kepada panti-panti asuhan.
Bahkan pada masa kepemimpinannya, Pak Harto mendorong Yayasan Dharmais untuk mendirikan rumah sakit kanker. Tujuannya membantu pemerintah dalam menanggulangi penyakit kanker dan pasien pun tidak perlu berobat di luar negeri.
Pak Harto memang sebagai pendiri Yayasan Dharmais, namun dia bukanlah pemilik yayasan. Lembaga sosial ini sepenuhnya adalah milik Yayasan Dharmais yang dikelola secara profesional. Gagasan Pak Harto memang cemerlang dan pemikiran beliau begitu jauh, ujar Suhariyanto.
Rumah sakit yang diberi nama Rumah Sakit Kanker Dharmais ini dilengkapi dengan peralatan serba mutakhir dan saat ini dapat digunakan kalangan medis untuk memperdalam ilmu kedokteran. Aset berupa rumah sakit senilai Rp112,4 miliar ini telah diserahkan kepada pemerintah Cq Departemen Kesehatan sejak November 1994.
Sejumlah rumah sakit lainnya juga pernah mendapat bantuan alat kedokteran dari Yayasan Dharmais, seperti RSCM, Jakarta mendapatkan alat Dexa Bonendensitrometri senilai Rp375 juta dan peralatan Laser Canela senilai Rp981,5 juta. Peralatan kedokteran mata senilai Rp137 juta juga diberikan kepada FKUI RSCM.
Rumah Sakit Persahabatan (Jakarta) pernah menerima bantuan peralatan Sleep Lap Terpadu senilai Rp998 juta. Bantuan lain diberikan kepada RS Bersalin Parsudi Rayahu, Magelang Rp500 juta untuk renovasi. Yayasan juga membiayai operasional Puskesmas Seroja, Bekasi, Jawa Barat.
Bantuan di bidang kemanusiaan di bidang kesehatan, Yayasan Dharmais bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) membantu operasi mata katarak, sedangkan untuk membantu operasi bibir sumbing bekerjasama dengan Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (Perapi).
Suhariyanto mengungkapkan bahwa hingga kini, pihaknya telah membantu operasi 165.000 penderita katarak. Pendanaan operasi sesuai dengan diajukan oleh Perdami setiap tahun anggaran. Begitu juga untuk operasi bibir sumbing kita telah menyediakan Rp500 juta per tahun, ujarnya.
Kegiatan operasi bibir sumbing rencananya akan dilaksanakan di Cirebon awal September 2007. Sedangkan operasi katarak sudah terjadwal di Perdami. Biasanya Perdami kerjasama dengan RSCM, kata Suhariyanto.
Sejak 2002, Yayasan Dharmais juga bekerjasama dengan Perkumpulan Penyantun Mata Tuna Netra Indonesia (PPMTI/Bank Mata Indonesia Cabang Utama DKI Jakarta). Selain itu, bersama-sama Yayasan Supersemar, Yayasan Dakab, dan Yayasan Damandiri memberikan bantuan kepada Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) untuk pembelian alat diagnosis osteoporosis. Alat itu ada di RSCM.
Yayasan Dharmais bersinergi dengan Yayasan Thalasemia. Kerjasama ini dimaksudkan untuk membantu penyelenggaraan operasi limpa, pengadaan obat desferal, serta transfusion set bagi penderita thalasemia yang tidak mampu.
Kiprah Yayasan Dharmais bukan sebatas memberi bantuan saja, tetapi kontribusinya sangat signifikan dalam mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pelaku ekonomi yang handal.
Melalui program Pesantren Singkat Pelatihan Usaha Produktif (PSPUP) berupaya membantu pemerintah mengatasi masalah anak jalanan dan remaja putus sekolah yang belum mempunyai pekerjaan.
Program yang bersinergi dengan Pemda setempat ini dilaksanakan di enam wilayah, yaitu Bogor, Kulonprogo, Magetan, Bondowoso, Balikpapan, dan DKI Jakarta. Para peserta diberi keterampilan sesuai dengan kebutuhan Pemda setempat. Usai pelatihan peserta diberi modal oleh Pemda, paparnya.
Hingga saat ini pihaknya telah melatih 3.480 orang, dan sebagian besar sudah membentuk kelompok dan telah bekerjasama dengan Pemda setempat.
Di bidang pendidikan, Yayasan Dharmais ikut mendorong minat baca para siswa yang tidak mapu dengan meluncurkan Program Mobil Unit Perpustakaan Keliling. Mobil ini secara rutin mengunjungi sekolah-sekolah, daerah perumahan kumuh, pondok pesantren dan gelanggang remaja di wilayah DKI Jakarta. Buku-buku yang disediakan antara lain koleksi buku fiksi, non-fiksi, dan buku paket pelajaran pun ada. Perpustakaan yang menetap baru ada di Perumahan Veteran di Seroja, Bekasi yang baru diresmikan 8 Agustus 2007, kata Suhariyanto.
Di bidang kesejahteraan, yayasan telah membangun 2.810 unit rumah sederhana tipe 21, 36, dan 45 di berbagai wilayah untuk membantu para veteran.
Komitmen Yayasan Dharmais yang kuat dan bantuan yang tak pernah surut ini sangat membantu masyarakat tidak mampu dan dapat meringankan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.(dewi purnamasari)
 
  Berita Sebelumnya  
  :: Bantuan Dharmais Tak Pernah Berhenti  
  :: 32 Tahun Yayasan Dharmais Sumbangsih Pak Harto Untuk Bangsa  
  :: Mari Sejenak Merenung  
  :: Kiprah Yayasan Dharmais Bantu Masyarakat  
  :: Ketua Yayasan Dharmais Bustanil Arifin, SH: Akan Berikan Pula Bantuan Usaha Ekonomi Produktif  
  :: Mempersiapkan Generasi Yang Mandiri  
  :: PSPUP, Sumbangsih Nyata Dharmais Menyemai SDM Yang Tangguh  
  :: BANTUAN SOSIAL YANG SUDAH DAN AKAN DISALURKAN YAYASAN DHARMAIS KEPADA MASYARAKAT YANG KURANG MAMPU TAHUN 2006  
  :: 31 Tahun Yayasan Dharmais Konsisten Melaksanakan Program Sosial  
  :: Yayasan Dharmais 31 Tahun Mengabdi Tanpa Putus  
 
Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra

Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi DHARMAIS : redaksi@dharmais.or.id
Copyright © 2004 dharmais.or.id
design by
Visionnet