Penderitaan itu berujung, Cerita dari Panti Asuhan Bayi Sehat Bandung
  Selintas ketika memandang dari depan, tampak panti asuhan ini terawat dengan baik. Ada beberapa mobil pribadi yang memarkirkan mobilnya di halaman depan. Letaknya yang strategis di jantung kota Bandung menjadikan panti tempat Dharmais membagi "harapan" ini mudah dikenal dan dijangkau masyarakat. Memasuki ruang kantor, di dinding terpampang daftar anak-anak panti dan statusnya.

Setelah mendapat "lampu hijau" dari pimpinan panti-Bapak Yanto Mulyadiyanto, kami menuju asrama yang letaknya di belakang kantor. Asrama yang meliputi tiga tingkat ini terkesan masih baru dan kokoh. Kami langsung menuju lantai tiga, tempat bayi-bayi mungil tak berdosa
ditempatkan.
Panti ini mengkhususkan asuhannya bagi bayi terlantar sehingga banyak masyarakat yang bersimpati. Mulai dari orang yang hanya menjadikannya sebagai suatu hiburan karena senang melihat bayi-bayi mungil, sampai ada yang mengangkatnya menjadi anak asuh. Tidak semua bayi akan diasuh oleh orang lain. Di lantai dua dan tigalah, anak-anak berumur tiga tahun ke atas yang tidak diasuh oleh orang lain ditempatkan. Lantai dua untuk anak putri, sedangkan lantai tiga untuk anak putra. Suasana lantai dua dan tiga cukup sepi. "Mereka kebanyakan belum pulang
sekolah", tutur Yanto. Berbeda dengan lantai tiga, ramai dengan suara tangisan bayi juga orang-orang yang berkunjung. Memasuki salah satu ruangan panjang dari dua ruangan yang dipisahkan oleh lorong. Di dalamnya terdapat beberapa boks bayi yang tiap boksnya berisi dua atau tiga bayi. Ada dua orang pengasuh yang bertugas di ruangan itu serta ada dua pasang suami-istri yang sedang melakukan "pendekatan" kepada calon anak asuh yang "ditaksirnya".

Mengetahui suara hati bayi-bayi itu tentunya cukup hanya di khayalan. Akhirnya, Endang, salah satu alumni pertama panti ini, ditunjuk untuk mewakili kisah hidupnya sebagai anak panti asuhan.
Walaupun cukup berat baginya membuka kembali lembaran lalu, akhirnya Endang menyanggupi untuk bercerita. Tentu, sekarang ia tidak lagi bayi mungil seperti saat pertama kali ditinggal lari orang tuanya. Dia telah menjadi ibu dari seorang putri berusia 15 tahun. Perjalanan hidupnya yang cukup perih, membawanya kembali ke tempat ia dibesarkan. Tidak lagi menjadi anak asuh, melainkan kini ia menjadi pengasuh "adik-adiknya". Endang kecil adalah anak panti yang keberadaan kedua orang tua dan sanak saudaranya tidak diketahui. Pihak Rumah Sakit Hasan Sadikinlah yang menitipkan ia ke panti ini. Menurut penuturan pengasuhnya dulu, bayi tak berdosa ini ditinggalkan di rumah sakit karena orang tuanya tidak mampu menebus biaya persalinan. Dengan uluran kasih sayang pengasuh panti, Endang tumbuh menjadi balita. Saat balita itulah, pengasuhannya diambil alih seorang mantan bupati di Bandung. Mereka memilih Endang sebagai anak asuhnya. Karena melihat kemapanan ekonomi calon orang tua asuh Endang, pihak panti percaya begitu saja bahwa hidup Endang akan terjamin. Malang nasib Endang kecil, bukannya ketulusan kasih sayang yang diterima, malah perlakuan kasar dari orang tua barunya yang ia peroleh. Dia diperlakukan layaknya pembantu. "Saya dipakai kerja, kayak pembantu, asal wae", katanya kesal mengenang masa lalunya.Terkadang jam satu malam, Endang baru bisa beristirahat. Jam empat pagi Endang sudah harus bekerja kembali. Janji palsu orang tua asuhnya jugalah yang membuat Endang putus sekolah dasar. Selama sekitar lima belas tahun, Endang menjalani cobaan hidup pahit di bawah tekanan orang tua asuhnya.

Kehidupan itulah yang membuat Endang melarikan diri bersama dengan pembantu orang tua angkatnya. Garut dijadikannya pilihan untuk memulai hidup baru. Nasib mujur belum mau mampir ke dirinya. Perlakuan kasar kembali ia alami. Kali ini dilakukan oleh sang pembantu. "Saya pikir, orang lain dikira sayang, eh...dimaki-maki, dikerjain seperti pembantu juga", tuturnya. Di usianya yang menginjak 25 tahun, Endang memutuskan untuk menikah dengan seorang laki-laki asal Garut yang sekarang menjadi mantan suaminya. Saat ditanya kenapa ia bercerai, dengan mata menerawang Endang menuturkan bahwa suaminya tidak mengakui jabang bayi yang dikandungnya. Bahkan, sering kali ia mengalami siksaan fisik. "Anak siapa ini!", katanya menuturkan cemoohan suaminya. "Tidak jarang tangan suami Endang menempeleng", katanya dengan suara serak karena air matanya jatuh satu-satu. Harapan Endang pupus lagi,
suami yang diharapkan menjadi tempatnya berlindung, tidaklah demikian kenyataannya. Tidak tahan dengan siksaan suaminya, Endang yang sudah melahirkan bayinya memutuskan untuk
pergi dari Garut. Sekarang hidup Endang diabdikan di panti tempatnya dibesarkan. Polisi membawanya kembali ke panti Bayi Sehat saat ia tersesat di Bandung bersama bayinya. Sekitar lebih empat belas tahun ia mengasuh anak-anak di panti ini, yaitu sejak tahun 1989. Sudah empat belas tahun juga ia merasakan nikmatnya hidup. "Alhamdulillah, di sini senang, kerasan", jawabnya ketika ditanya bedanya kehidupan sekarang dan dulu. Untuk mencari penghidupan lain di luar panti pun ia ketakutan, "Abis jika keluar mau ke mana, saudara tidak ada, kerja di mana?", katanya dengan nada lirih. Dia sudah menganggap anak-anak di panti ini sebagai anaknya sendiri. "Senang mengasuh adik-adik karena dulu juga merasakannya", katanya. 3ika "adik adiknya" gembira, ia pun merasakan kebahagiaan. Sedihnya, kala "adik-adiknya" menanyakan siapa orang tua mereka karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Hampir semua anak panti di sini tidak di- ketahui keberadaan orang tuanya. Kebahagiaan Endang ditambah lagi dengan adanya Rika, anak tunggalnya yang sudah menginjak dewasa. "Saya bahagia sekarang, kiranya tidak akan punya turunan", Endang berkata sambil tersenyum. Walaupun anaknya dalam asuhan orang lain yang bertempat tinggal di 3akarta, tetapi ia senang dan bersyukur karena anaknya bahagia dan bisa sekolah. Dia percaya kepada orang tua asuh Rika karena sudah mengetesnya terlebih dahulu. Jika kangen pun, ia diperbolehkan menemui anaknya, atau sebaliknya anaknya yang berkunjung ke panti. Sekarang anaknya sudah duduk di kelas dua SMP. Dia tidak ingin anaknya mengalami pengalaman pahit seperti dirinya. Dengan antusias ia berkata, "Yang penting anak saya berhasil. jangan seperti saya". Harapannya, Rika bisa sekolah tinggi meraih cita-citanya karena dalam asuhan orang lain yang lebih mapan kondisi ekonominya. Harapan terakhir Endang saat menu- tup pembicaraan, ia ingin bertemu dengan orang tuanya. "Saya ingin ketemu. Feeling saya orang tua saya belum meninggal", katanya. Terkadang ia tidak habis pikir, "Kenapa ibu saya tidak seperti saya. Kok orang tua tega, apalagi saya cewek". Bahkan, orang tuanya tidak sempat memberinya nama. Endang Aisyiah adalah nama ibunya sendiri karena pihak rumah sakit selalu menyebut "bayi Endang". Walaupun kadang rasa kesal kepada orang tuanya datang, tetapi ia
bertekad akan menerima orang tuanya sepenuh hati. Katanya, "jika sudah ketemu, mau jadi apa, mau gimana, saya akan menerima apa adanya". Usaha untuk menemukan sanak saudaranya pernah dilakukan, yaitu dengan mengumumkan dirinya di media cetak. Namun, setelah menunggu sekian lama tidak ada salah satu sanak saudaranya pun yang mengakuinya. "Masak saya nggak ada saudara, nggak ada bibi, nggak punya ibu", katanya sambil meneteskan air mata.
Endang adalah salah satu insan Tuhan yang cukup tabah menghadapi cobaan hidup. Kini, ia sudah cukup bahagia dengan kehidupan barunya walaupun ia terus berharap agar bisa bertemu orang yang telah melahirkannya ke dunia ini.

Jika kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa
(Anonim)


 
  Berita Sebelumnya  
  :: SAMBUTAN KETUA YAYASAN DHARMAIS  
  :: MERENTANG GARIS HIDUP INSANI  
  :: Menyongsong Masa Depan  
  :: PELANGI PERJALANAN  
  :: DATA JUMLAH PANTI, PENGHUNI, DAN BANTUAN KESELURUHAN YAYASAN DHARMAIS TAHUN 2003 BERDASARKAN SK BANTUAN  
 
Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra

Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi DHARMAIS : redaksi@dharmais.or.id
Copyright © 2004 dharmais.or.id
design by
Visionnet