Ada kepuasan tersendiri, Cerita dari Pengurus SLB Surya Wiyata, Jakarta Timur
  Dari kota Paris Van Java, kami kembali lagi ke Jakarta. Selain bertemu Almos Barcelli, di SLB Surya Wiyata-Jatiwaringin yang mengkhususkan kelas B (tuna grahita) dan kelas C (tuna rungu), Anda akan kami ajak juga untuk bertemu dengan guru-guru yang kesehariannya mendidik Almos dan teman-temannya. Untuk masuk ke lingkungan sekolah ini, hanya ada satu jalan yang pintunya dalam kondisi tertutup. Halaman sekolah, tempat anak-anak bermain dan berolahraga pun terletak di lingkungan sekolah.

Bangunan sekolah intinya berhadapan dengan bangunan kantor sehingga dari bagian depan tidak terlihat kelas-kelasnya. Untuk ruang makan, asrama, dan belajar keterampilan ada di bagian belakang gedung sekolah yang dipisahkan halaman.

Dari bangunannya, penjagaan SLB ini terkesan cukup ketat. Hal ini wajar karena ada sebagian siswanya yang tergolong tuna grahita. Menurut salah satu guru, pernah ada satu siswanya yang melarikan diri beberapa kali dan melakukan tindakan bahaya, yaitu berjalan di pinggir jalan tol tanpa tahu arah. Oleh karena itu, sistem pengamanannya mendapat perhatian lebih agar anak SLB tidak keluar lingkungan sekolah tanpa pengawasan dan juga sebagai antisipasi terhadap pengaruh luar.

Kami diantar oleh salah satu siswa yang terlihat sudah dewasa, tetapi raut wajahnya berbeda dengan orang kebanyakan. Saat melewati beberapa kelas yang kegiatan belajar-mengajarnya masih aktif, terlihat beberapa kegiatan di dalamnya. Ada yang bernyanyi dengan diiringi organ, ada juga kelas yang hening, hanya suara keras sang guru yang sejelas mungkin menerangkan pelajaran ke siswa. Siswa yang memakai kemeja putih dan celana hitam itu bicara dengan kata yang tidak kami mengerti, tetapi sambil mengacungkan tangannya ke ruang kantor. Mungkin ia ingin menunjukkan bahwa kami akan dipertemukan dengan pihak pengurus sekolah. Melihat kedatangan kami, salah satu pengurus mempersilakan untuk menunggu di ruang tamu. Dari keterangan pengurus sekolah, anak tersebut adalah salah satu alumni yang diperbantukan untuk menjadi asisten kelas. Cacat grahita yang dideritanya masih tergolong rendah sehingga ia masih bisa memahami maksud orang lain. Berikut ini Ibu Yayuk, sang guru kelas B, membagikan pengalamannya.

Latar belakang pendidikannya di PGSLB menjadikan ibu Yayuk tahu bahwa anak-anak tuna grahita ternyata tidak gila seperti anggapan banyak orang. Bahkan, ia merasa bangga bisa mengajar anak yang emosinya labil dan kadang mengamuk karena tidak semua orang bisa mengajar mereka.

Untuk menghadapi anak tuna grahita, ia punya trik. Triknya tergantung siapa anak yang dihadapinya. Ada yang dengan kata-kata keras, tetapi ada yang hanya dengan bahasa isyarat. Menurutnya, untuk menjadi guru SLB khususnya kelas B harus awas terus perhatiannya. "Jangan sampai lengah karena bisa saja anak yang sedang kumat mengamuk dan melukai teman-temannya", katanya tentang tingkah aneh anak didiknya. ”Belum lama ini terjadi seorang murid yang melukai mata temannya. Ada juga yang kerap mengamuk setiap hari dengan memecahkan sedikitnya satu bidang kaca", tuturnya dengan logat Jawa.

Mungkin tingkah seperti itulah yang menjadikan pandangan orang tua terhadap SLB menyeramkan. Padahal, anaknya mungkin termasuk kategori luar biasa juga karena tinggal kelas terus. Namun, orang tua kadang tidak menyadari bahwa kemampuan anaknya di bawah anak normal." Di sini ada beberapa anak yang dulunya di sekolah umum, tetapi karena tinggal kelas terus akhirnya orang tuanya menyadari sehingga dimasukkan ke SLB", ungkap ibu muda ini.

Yayuk yang dari tahun 1995 mengabdikan diri di SLB ini menjelaskan bahwa apa yang diajarkan di kelas B sama dengan pelajaran di sekolah umum hanya tarafnya diturunkan. Malah untuk kelas C, taraf pelajarannya sama dengan sekolah umum. Alumni SD atau SMP dari SLB ini tidak jarang melanjutkan ke sekolah umum. "Mereka bisa mengikuti pelajaran dan tidak minder", tandas ibu yang sebelumnya bekerja di sebuah SLB di Boyolali. Alat bantu dengar rupanya cukup membantu anak-anak tuna rungu untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Selain pendidikan umum, anak SLB di sini juga dibekali berbagai keterampilan, seperti menjahit dan berkebun. Untuk menjahit, mereka membuat aneka produk yang bisa dijahit mesin atau tangan. Musik juga memberi nuansa kebahagiaan bagi mereka. Selain bernyanyi, mereka juga belajar seni angklung. "Anak SLB B dan C pernah diundang beberapa kali untuk pentas, biasanya oleh warga negara asing", tutur ibu beranak satu ini. Dalam bidang olahraga, SLB ini juga patut berbangga karena beberapa kali menjuarai beberapa perlombaan dan pertandingan. Di ruang tamu, tempat kita berbincang terpampang banyak medali dan tropi sebagai hasil prestasi anak-anak SLB ini.

Untuk menambah kisah suka-duka pahlawan tanpa tanda jasa di SLB ini, kami diantar ke bagian belakang gedung sekolah, yaitu tempat guru lain mengajar keterampilan. Saat melewati kelas-kelas, terlihat piring-piring berisi makanan yang siap disantap. Makanan itu merupakan bentuk nyata sumbangan Yayasan Dharmais.


Memasuki ruang makan, ada seorang anak tuna grahita yang sedang menyiapkan peralatan makan untuk teman-temannya makan siang. Kata Yayuk, anak itu bertugas piket hari ini.

Ada juga Leman yang berusia 45 tahun, tetapi raut mukanya masih seperti anak usia belasan tahun yang sedang mengetik surat di ruangan kecilnya. Leman yang alumni SLB ini dan sekarang diperbantukan untuk urusan administrasi terlihat begitu tekun menyelesaikan pekerjaannya. Ada kebiasaan anehnya sewaktu pagi hari, saat lampu-lampu di luar ruangan harus dimatikan, Leman bukannya mematikannya, tetapi mengambilnya untuk disimpan. Setelah menjelang sore, lampu-lampu itu dipasangnya kembali. Menurut Yayuk, Leman mengkhawatirkan lampu-lampu di SLB ini akan diambil maling.

Di dalam lemari, kami melihat buah karya anak-anak dari kecakapannya menjahit. Biasanya, karya-karya ini dipertontonkan di bazar atau pameran. Di satu sisi dari ruangan besar ini ada beberapa anak kelas B yang sedang membuat keset dari kain sisa. Di bagian belakang ruangan ini ada ruangan besar lagi. Ruangan ini masih merupakan tempat belajar keterampilan, menenun, dan menggambar puzzle. Di ruang ini, kami bertemu dengan Bapak Cipto dan Joko yang akan berbagi cerita.

Keingintahuannya tentang anak tuna grahita membuat Cipto memutuskan untuk sekolah di PGSLB. Matanya menerawang karena mengingat kisah seorang anak tuna grahita di desanya di Tegal. Dulu, ada seorang anak tuna mental yang oleh masyarakat dianggap gila, kemudian ia dipasung dan disuruh tidur dengan alas batu. Padahal, dalam hati kecilnya, tidak seharusnya ia diperlakukan seperti itu, justru seharusnya dibimbing. Keprihatinannya membawanya menekuni dunia mereka. Bahkan, Cipto turut merintis berdirinya SLB Surya Wiyata ini.

Umurnya yang sudah 51 tahun memang saat-saat yang tepat untuk beristirahat dari dunianya ini. Pengabdiannya telah membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Almos dan teman-teman yang berprestasi dalam bidang olahraga adalah hasil didikannya. Gemblengannya membuat anak didiknya serius berlatih. Ia menerapkan sistem latihan yang kontinyu dan beban latihan yang semakin meningkat. Dari pola itu, Cipto dapat menemukan bibit-bibit unggul untuk dikirimkan ke kompetisi antarsekolah, baik tingkat nasionaI maupun internasionaI.

Berbeda dengan Cipto, Joko mengajarkan ilmu perkebunan dan menenun khusus untuk anak laki-laki. Ia sudah dua puluh tahun menjalani profesi sebagai guru SLB. Rasanya tidak ada kata bosan membina anak-anak cacat. "Niat awal saya yang ingin mengabdi dan mendidik anak-anak cacat", tandas guru yang telah empat tahun mengajar di SLB ini. Cipto dan Joko adalah sosok guru yang hampir separuh hidupnya telah diabdikan untuk peningkatan kualitas hidup si tuna. Mereka merasakan kepuasan sendiri jika apa yang diberikan ada hasilnya walaupun itu hanya setitik.

Embusan angin "masalah", derasnya air "ujian", dan teriknya matahari "persoalan" membuat kita besar, berhasil, dan sukses (Anonim)


 
  Berita Sebelumnya  
  :: Modal saya adalah ketulusan hati, Cerita dari Pengurus SLB C Cipaganti, Bandung  
  :: Kepedulian Pengurus SLB, Memberdayakan Sisi Kelebihan Si Tuna  
  :: Ada sisi kepuasan hidup bersama mereka, Cerita dari Pengurus Panti Asuhan Gembala Baik, Jakarta Timur  
  :: Ada kepuasan sendiri, Cerita dari Pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah, Solok  
  :: Tidak ada salahnya mencoba, Cerita dari Pengurus Panti Asuhan Tat Twam Asi, Denpasar  
  :: Menjalani seperti air mengalir, Cerita dari Pengurus Panti Asuhan Khadijah, Surabaya  
  :: Melatih mandiri dengan tidak kenal usia, Cerita dari Pengurus Panti Asuhan Sidhi Astu, Bali  
  :: Yang diberikan pasti ada artinya, Cerita dari Pengurus Panti Asuhan Tresna Putra, Bogor  
  :: Kita tidak melepas mereka begitu saja, Cerita dari Pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah, Bandung  
  :: Mereka akan menjemput kita, Cerita dari pengurus Panti Asuhan Bayi Sehat, Bandung  
 
Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra

Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi DHARMAIS : redaksi@dharmais.or.id
Copyright © 2004 dharmais.or.id
design by
Visionnet