Cerita dari guru SD dan Pengasuh pondok pesantren, Ini suatu cara menumbuhkan minat baca anak
  Tidak hanya murid-murid yang bergelut dengan buku saat perpustakaan keliling Dharmais datang ke sekolah-sekolah. Para guru juga terlihat turut aktif mendampingi muridnya, bahkan di antara mereka memanfaatkannya sebagai ajang memberi tugas. Di satu pojok kerumunan murid-murid yang sedang telungkup dengan pulpen di tangan dan buku-buku di depan mereka, berdiri seorang bapak setengah baya sedang mengawasi apa yang dilakukan anak muridnya. Mardiono, itulah nama bapak itu yang tercatat sebagai guru SD kelas enam SD Angkasa 12, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

Datangnya perpustakaan keliling Dharmais sekaligus dijadikan sarana baginya untuk mengasah kemampuan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. "Saya minta mereka untuk membuat sinopsis dan menceritakan kembali buku yang dipinjam", tutur bapak yang telah 32 tahun menjadi pahlawan tanpa tanda jasa ini. Buku-buku cerita rakyat menjadi pilihan murid-murid. Selain tugas ini bisa sebagai latihan murid-murid menghadapi ujian praktek akhir, membaca cerita-cerita seperti itu bisa memberikan pelajaran budi pekerti yang akhir-akhir ini luntur di kalangan anak-anak.

Hal serupa dipraktekkan juga di SD lain, salah satunya di SD Pondok Ranggon IV. Dituturkan Sri Sumarlina, salah satu guru di SD itu, metode seperti itu merupakan cara untuk menarik minat baca murid-murid. Biasanya, jika tidak ada rangsangan tugas, anak muridnya malas untuk membaca. Walaupun perpustakaan di sekolah ini ada, tetapi cukup sepi tanpa pengunjung. Teman seprofesi Ibu Sri yang lain juga mengakui bahwa adanya perpustakaan keliling Dharmais banyak membawa manfaat. Anak muridnya yang duduk di kelas empat menjadi lebih tahu intonasi sesuai dengan tanda baca karena seringnya membaca.

Sekitar bulan Januari 2003, perpustakaan keliling Dharmais telah datang ke sekolah yang letaknya jauh dari fasilitas dan sentuhan hidup perkotaan. Selama itu, Sri juga merasakan dampak positif dari kegiatan ini. "Misalnya dalam mengarang cerita, alur ceritanya sudah jelas. Awalnya ke sana-ke mari", jelas ibu berumur 38 tahun ini. Dampak lain diceritakan oleh pengurus perpustakaan Assidiqiyah, Ibu Zahro. "Dengan ini menjadi rangsangan anak untuk gemar membaca. Dari situ anak-anak mau baca koran dan ke perpustakaan sekolah", ungkap pengurus yang dengan tertib mengkoordinasi buku-buku yang dipinjam anak-anak pesantren.

Hadirnya perpustakaan keliling Dharmais yang digilir per minggu di beberapa sekolah di Jabotabek memang tidak bisa dipungkiri bermanfaat bagi generasi penerus bangsa. Diakui oleh para kepala sekolah dan guru di sekolah yang dikunjungi, perpustakaan keliling ini membawa nuansa baru bagi atmosfer perpustakaan sekolah. Keterbatasan buku di perpustakaan sekolah terbantu dengan beragamnya buku-buku yang bisa dibaca anak-anak di perpustakaan keliling Dharmais. Kebanyakan buku-buku yang ada di perpustakaan adalah buku pelajaran. Kalau pun ada buku cerita, bukunya telah lama tidak diperbaharui lagi. Radio, televisi, dan internet yang lebih menarik dijadikan pilihan anak-anak. Dengan begitu, apalagi dikunjungi, dilirik pun mungkin tidak oleh anak-anak yang sudah tahu teknologi modern.

Namun, tidak bisa dipungkiri, buku punya kelebihan dibanding bermacam teknologi itu seperti sebuah ungkapan "buku adalah jendela dunia". Oleh karena itu, kehadiran perpustakaan keliling Dharmais masih dibutuhkan oleh anak-anak sekolah apalagi bagi sekolah yang kelasnya menengah ke bawah dan berada jauh dari fasilitas yang memadai. Kenyataan ini diakui oleh Wakil Kepala Sekolah Dasar Pondok Rangon IV, Bapak Yusuf. "Kami merasa beruntung karena di sekolah menjadi banyak buku yang bisa dibaca anak-anak. Kami gembira dengan adanya perpustakaan keliling", tandas bapak asal NTB ini. Walaupun terhitung masuk wilayah Jakarta Timur, tetapi SD ini tergolong terpencil. Untuk mencapainya, diperlukan waktu sekitar setengah jam dari daerah Taman Mini Indonesia Indah. Seperti menuju suatu daerah pelosok, kanan-kiri jalan tidak ditemui gedung-gedung bertingkat. Rumah-rumah sederhana dan kebun menghiasi perjalanan menuju SD yang bersebelahan dengan SD Pondok Ranggon V ini.

Dengan kondisi seperti itu, cukup sempit kesempatan anak murid SD Pondok Ranggon IV dan V mengakses toko buku. Jika ingin menambah koleksi bacaan, mereka harus pergi ke kota terlebih dahulu di samping membawa bekal uang yang terhitung tidak kecil. Sebenarnya, ini menjadi tugas perpustakaan pemerintah Jakarta Timur atau DKI untuk menfasilitasi kebutuhan anak-anak sekolah akan buku. Namun, pihak yang diharapkan anak murid dan pendidik di SD ini tidak kunjung datang membawa si jendela dunia.

Mengingat manfaat akan pengadaan perpustakaan keliling ini. Semua yang telah merasakan dampaknya berharap, kegiatan amal ini jangan berhenti. "Harus dilanjutkan, soalnya susah mencari. Sekarang ini siapa lagi?", pinta Bapak Mardiono, guru kelas IV SD Angkasa 12. Hal yang sama disampaikan Ibu Zahro, "Mudah-mudahan tidak berhenti. Jika belum datang aja ditanya anak-anak". Sebagai anak santri, membaca buku menjadi hiburan tersendiri. Oleh karena itu, pilihan mereka jatuh ke buku-buku cerita, baik cerita legenda atau novel. Untuk itu, Zahro menyarankan, buku cerita yang disajikan bernuansa Islami agar nilai-nilai agamanya tetap ada.

Menambah koleksi buku untuk menghindari kejenuhan anak-anak juga disarankan oleh beberapa guru. "Saya sarankan untuk menambah buku nonfiksi tentang teknologi sederhana", ucap Bapak Mardiono. Usulan lain dari Mardiono, yaitu lomba membuat sinopsis dengan hadiah murah, tetapi menarik. Sekedar tepuk tangan dan senyum dari guru sebagai seorang yang digugu dan ditiru pun bisa menjadi hadiah tidak ternilai bagi seorang anak yang merasa karyanya dihargai. Apapun saran dan masukan dari sang guru, itu semua ditujukan demi perbaikan perpustakaan yang berkeliling dengan bus putih bertuliskan "Unit Perpustakaan Keliling" berlogo Yayasan Dharmais.

Dan bahwa setiap pengalaman mestilah dimasukkan ke dalam kehidupan, guna memperkaya kehidupan itu sendiri. Karena tiada akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan (Anne Marie Schimmel)


 
  Berita Sebelumnya  
  :: Kepedulian Pengurus Perpustakaan Keliling Dharmais, Membuka Cakrawala Dunia  
  :: Nantinya kita akan seperti mereka, Cerita dari pengurus Sasana Tresna Werdha, Jakarta Timur  
  :: Di penghujung usianya mereka mendambakan kasih sayang, Cerita dari pengurus Panti Werdha Budhi Dharmo, Yogyakarta  
  :: Sentuhan anaknya sangat diharapkan mereka, Cerita dari pengurus Panti Werdha Hanna, Bogor  
  :: Mereka sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri, Cerita dari pengurus Panti Werdha Usia Senjarawi, Bandung  
  :: Kepedulian Pengurus Panti Werdha, Membahagiakan mereka di saat-saat terakhir  
  :: Kepedulian Perdami dan Pegawai Rumah Sakit, Gulitamu Berakhir  
  :: Semua tidak hanya diukur dengan uang, Cerita dari RSHS, Bandung  
  :: Kepedulian Pengurus Perapi, Sebuah Sentuhan Abadi  
  :: Pelatihan ini dapat memperluas dan menciptakan lapangan pekerjaan, Cerita dari pelatihan usaha produktif Kalimantan Timur  
 
Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra

Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi DHARMAIS : redaksi@dharmais.or.id
Copyright © 2004 dharmais.or.id
design by
Visionnet